Mukmin Mandiri, Yayasan Pesantren Berbasis Agrobisnis Dan Agroindustri

Mukmin Mandiri, Yayasan Pesantren Berbasis Agrobisnis Dan Agroindustri

Sidoarjo - Pondok Pesantren (Ponpes) yang terletak di Perumahan Graha Tirta, Waru, Sidoarjo, Jawa Timur berhasil manyatukan pendidikan ilmu agama dan kewirausahaan. Yayasan Pondok Pesantren MUKMIN MANDIRI menerapkan konsep wirausaha berbasis agrobisnis dan agroindustri. Pesantren ini didirikan oleh KH. Muhammad Zakki, seorang kyai muda, nyentrik, dan kharismatik. KH. Zakki juga sosok pengusaha yang tangguh dan handal.

Ponpes MUKMIN MANDIRI didirikan pada bulan April 2006. Inspirasi pendirian ponpes ini diilhami dari sebuah kekhawatiran dan keprihatinan masa depan pesantren di Indonesia. Percepatan ekonomi dan kuatnya arus modernitas akan menggerus eksistensi pesantren, jika kedepannya dunia pesantren tidak melakukan re orientasi, visi, misi, dan paradigma pesantren sesuai dengan kehendak masyarakat.

Ponpes ini menerapkan Sprit Jihad Entrepreneur. Pertama, membangun karakter berwirausaha hingga melahirkan wawasan wirausahawan yang tangguh dan handal. Kedua, mengadakan berbagai pelatihan, membekali secara teoritis kepada santri tentang ilmu marketing, akuntansi, management, dan leadership.

Ketiga, praktik wirausaha santri diajarkan mulai dari mengenal kopi, penanaman bibit kopi, pengolahan biji kering hingga menjadi roaster (bubuk), produksi kopi, membuat kemasan kopi, memasarkan, hingga pada manajemen pengelolaan keuangan kopi. Pelatihan dan praktik dilakukan secara bersamaan dan berkesinambungan. Selain berwirausaha, pesantren ini juga memakai konsep menghafalkan Al-Quran.

Ponpes MUKMIN MANDIRI telah berhasil mengembangkan bisnis kopi yang sudah menembus pasar domestik dan pasar ekspor. Ekspor perdana ke Melbourne, Australia, dengan merk Kopi Mahkota Raja pada Mei 2016 sebanyak 10.000 box atau 10 ton, dengan nilai Rp 300 juta, yang turut diresmikan oleh Menteri Koperasi dan UKM, AAGN Puspayoga. Kopi Raja yang di produksi berasal dari campuran kopi dari kebun di Tulungagung, Dampit Malang, dan Sumatera, dengan total kapasitas produksi 30 ton per bulan.

Produk ekspor mereka pun terus berkembang, hingga mampu menembus pasar Malaysia, Cina, dan Dubai. Di pasar internasional, kopi produk asli pesantren tersebut justru sangat laku. Di Jawa Timur, kopi khas pesantren ini dijual dengan harga Rp 30-35 ribu per kilogram, sedangkan di pasar ekspor dibanderol dengan harga Rp 60-70 ribu per kilogram.

KH. Zakki mengatakan, pengelolaan usaha kopi tersebut dilakukan para santri dari tahap pengelolaan, pemasaran, hingga keuangan. Para santri mendapatkan penghasilan dari kegiatan wirausaha yang dilakukannya tersebut. "Karena omzetnya makin besar, kami sekarang ingin mencoba pasar Eropa," ucapnya.

Setiap bulannya ponpes tersebut mampu memproduksi 15 ton kopi per hari. Dengan omzet yang dihasilkan lebih dari Rp 1 miliar setiap bulannya. "Saya mendirikan pesantren ini memang tujuannya adalah untuk mengembangkan kewirausahaan bagi santri," ujar KH. Zakki. Kegiatan yang dilakukan pesantren tersebut diharapkan juga turut diadopsi oleh pesantren lain agar para santri setelah lulus mampu mandiri dan merdeka secara ekonomi.

Pada tahun 2012 didirikanlah Pondok Pesantren MUKMIN MANDIRI 2 di Kabupaten Tulungagung, dengan program unggulan mereka yaitu Hulu Hilir Kopi Santripreneur. "Di pesantren ini, kami mengolah kopi dari tingkat hulu sampai hilir sehingga siap dikonsumsi dan di pasarkan dengan pengelolaan teknologi modern oleh para santri Tahfidzul Al-Quran," ujar KH. Zakki.

Dan pada Januari 2019, menyusul beroperasinya pabrik kopi di lingkungan pesantren MUKMIN MANDIRI 2 dengan luas lahan mencapai 650 hektar. Bebagai produk unggulannya antara lain, Kopi Mahkota Raja Blend Doa, Kopi Abah, Kopi Songo, Kopi Tjap Kyai, Kopi Jamin, dan Coffee Greng Lanang. "Saya melihat peluang bisnis di dunia kopi masih bisa terus dikembangkan. Kami juga optimis di lahan seluas 890 hektar, hulu hilir kopi bukan sekedar impian," tambahnya.

Pabrik kopi tersebut telah dilengkapi dengan mesin pengupas (pulper) kulit buah berkapasitas 200-300 kilogram buah kopi per jam, bak fermentasi, mesin pencuci, mesin pengering, mesin pengukur kadar air, mesin pengupasan kulit tanduk pada biji kopi, mesin sortasi kopi yang telah berbentuk beras (mesin ayak), serta gudang penyimpanan.

Kemajuan teknologi di era revolusi indistri 4.0 dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak, tak terkecuali para santri di ponpes. Peluang mempelajari ilmu baru hingga meraup keuntungan bisnis dapat diraih hanya dalam satu genggaman tangan saja. Kini, untuk menjadi pedagang tidak perlu lagi harus memiliki toko secra fisik ataupun ruko.

Selain terus mengembangkan industri kopi, Ponpes MUKMIN MANDIRI juga membangun industri pengolahan madu. "Saat ini, kita sudah memiliki sekitar 205 rumah lebah yang mampu menghasilkan madu asli berkualitas tinggi. Kedepannya, kita juga akan mengembangkan perkebunan talas yang akan kita olah agar memiliki nilai tambah atas produk tersebut. Selain fokus ke pasar domestik, produk-produk dari Ponpes MUKMIN MANDIRI juga dikembangkan untuk mengisi pasar ekspor," pungkas KH. Zakki. {**}

Artikel Terkait