Mencetak Pengusaha Sukses Dari Pondok Pesantren Sidogiri

Mencetak Pengusaha Sukses Dari Pondok Pesantren Sidogiri

Pasuruan -- Sebelum pondok pesantren (ponpes) di tanah air marak mengajarkan wirausaha kepada para santrinya, Ponpes Sidogiri Pasuruan Jatim sudah lama mendahului.

Lembaga tersebut memulai pelajaran wirausaha pada pertengahan 1961. Laboratorium prakteknya barulah berupa kedai dan toko kelontong. Kala itu, praktik yang diselenggarakan masih sederhana. Ponpes Sidogiri hanya membuka kedai yang menyediakan nasi dan penganan ringan untuk memenuhi kebutuhan santri sendiri.

Berkat ketelatenan dan kehematan pengurus, selisih untung dari membuka kedai kemudian dikembangkan dengan usaha lain; mendirikan toko kelontong yang berjualan sembako dan kebutuhan rumah tangga. Semula hanya terbatas bagi lingkungan pesantren, namun kemudian mendirikan toko buku dan toko bangunan di sejumlah pasar di Pasuruan.

Ponpes ini dipimpin oleh KH Mahmud Ali Zain dengan motto usaha 'Dari santri untuk santri'.

Kini, Pesantren Sidogiri memiliki sedikitnya 10 unit usaha yakni kantin, toko kelontong (menjual sembako), toko buku, toko alat-lat rumah tangga, kosmetik, toko bangunan, mini market, wartel, pertanian, BMT, pembuatan sarung dan baju muslim. Masih ada usaha percetakan kitab, hadis, buku tulis, dan undangan, kue dan air kemasan. Semua olah tangan santri pesantren Sidogiri ini diberi merek 'Santri'.

Air kemasan Santri merupakan hasil kerjasama dengan PT Alamo, sebuah perusahaan air kemasan di kawasan Gunung Bromo, Probolinggo. Produk air kemasan santri Pesantren Sidogiri mampu bersaing dengan produk lain di pasaran.

Menurut KH Mahmud, pihaknya merintis usaha dari nol. Dia mencontohkan, BMT saat didirikan pada 1997 hanya bermodalkan Rp13,5 juta. Tapi kini gurita usahanya terus membesar.

"Kami membangun bisnis dimaksudkan sebagai sumber pendanaan bagi ponpes. Bisnis ini tidak dimaksudkan hanya mencari untung belaka, tapi bagaimana menebar rahmat," ujar KH Mahmud, seperti yang dilasir oleh Al-Syia.org.

Pelan tapi pasti, bisnis pesantren ini terus membesar. Hingga 2010, omzet keseluruhan lini bisnisnya mencapai Rp1,3 triliun dalam setahun. Cabang-cabang BMT dan Kopontren mencapai 180 unit di seluruh Indonesia.

"Cabang-cabang kami tidak hanya ada di Jawa Timur, tapi juga di Kalbar, Kalteng, Kaltim, DKI Jakarta, dan Jabar. Ke depan kami menjajaki membuka cabang di Bali, NTB, Bali, dan Sulawesi, bahkan Papua. Kami menggunakan jaringan alumni dan para santri untuk membangun bisnis ini. Santri kami tersebar di seluruh Indonesia, bahkan ada yang kini berkiprah di Yaman, Arab Saudi, dan Mesir," jelas KH Mahmud.

Lini bisnis Sidogiri lewat Kopontren juga luar biasa. Kopontren Sidogiri membangun jaringan gerai ritel, terutama di wilayah Pulau Madura. Saat ini di Pulau Madura ada 16 unit minimarket Kopontren Sidogiri. Tahun ini diharapkan ada penambahan 18 unit Kopontren lagi di sejumlah wilayah.

General Manager BMT Sidogiri, Abdul Majid Umar, mengatakan, seluruh bisnis Sidogiri itu telah menyerap sedikitnya 1.300 tenaga kerja. Tenaga kerja tidak hanya dari kalangan santri, namun juga dari masyarakat luas.

"Kami memproduksi sejumlah barang sendiri, seperti air minum dalam kemasan (AMDK) merek Santri. Semua yang kami jual adalah produksi dalam negeri," ujar Umar kepada Media Indonesia.

Ponpes Sidogiri kini mempunyai 8.000 santri yang terdiri atas 5.000 santri putra dan 3.000 santri putri. Ponpes ini didirikan pada 1745 atau 200 tahun sebelum Indonesia merdeka. Ponpes ini mendirikan madrasah pada 1938 atau tujuh tahun sebelum Indonesia merdeka.

"Karena ikhtiar membangun usaha ini pula, kami secara rutin mengirim guru ke seluruh pelosok Indonesia. Tahun lalu ada 553 guru yang kami kirim ke seluruh pelosok Indonesia," pungkas KH Mahmud. {##}

Artikel Terkait