Kopi Gucialit Lumajang Tembus Pasar Luar Negeri Saat Pandemi

Kopi Gucialit Lumajang Tembus Pasar Luar Negeri Saat Pandemi

LUMAJANG - Selain teh, kopi menjadi salah satu hasil komoditas masyarakat di wilayah Gucialit. 

Berada di ketinggian 500-1200 mdpl, ternyata sedari lama mayoritas masyarakat lokal memiliki kebun kopi hingga sekarang.

Kendati demikian, dulu kopi Gucialit belum dikelola secara baik dan benar. Bisa dibilang kala itu petani menjual hasil panen dengan harga serampangan ke para tengkulak.

Hal ini lah yang membuat Rifqi Zulkarnain Masruri (28) warga setempat tertarik membranding kopi asli Gucialit.

"Dulu harga kopi di tengkulak miring, sekitar 19-20 per kilo. Kalau sekarang kopi yang petik merah (matang) bisa sampai harga 30 ribu," kata Rifqi, Senin (23/11/2020).

Rupanya selama pandemi Covid-19, tidak berimbas besar terhadap bisnis yang satu ini.

Apalagi menurut Rifqi, selama pandemi tren belanja daring pada masyarakat makin meningkat.

Hal ini lah yang menjadi resep Rifqi agar kopi Gucialit tetap beredar.

"Kopi ini tahan banting, apalagi saya kan di sektor produksi. Mungkin kalau permintaan kafe ada yang berkurang, tapi  orang tetap ngopinya bisa di rumah," ujarnya.

Kata Rifqi, selama dirinya menjajal pemasaran kopi Gucialit secara daring, produknya bisa tersebar di seluruh Jawa.

Ia juga mengatakan berdagang melalui cara daring membuat kopi Gucialit bisa merambah pasar internasional.

Sesekali produk kopi Gucialit pernah dikirim ke Jepang, China, hingga Rusia. 

Selain terjun langsung membranding kopi Gucialit, di rumah produksinya Rifki juga melakukan sendiri roasting biji kopi.

Siasat inilah yang membuat Rifqi mampu menaikkan patokan harga jual biji kopi dari petani.

Selain itu, Rifqi juga menerapkan kerja sama menarik ke petani.

Ia bersepakat dengan petani,  uang hasil panen kopi diambil sesuai kebutuhan.

"Ini namanya program menabung kopi. Jadi menabung kopi sengaja disiapkan untuk menyiapkan kebutuhan-kebutuhan tertentu, misalnya, untuk tabungan pendidikan anak petani. Alhamdulillah sudah terbukti jalan," ungkapnya.

Kendati demikian, saat ini hanya seorang petani yang mampu dirangkul Rifki untuk bermitra dengannya.

"Sebenarnya banyak petani yang tertarik sama program menabung kopi. Tapi yang  mampu saya rangkul sekarang masih 1 orang. Selain karena keterbatasan modal, saya sendiri juga memfilter petani karena saya gak mau sistem beli putus," pungkasnya. {SURYA.co.id}



Artikel Terkait