Kisah Sukses Pengusaha Mainan Barongan Mini Asal Blitar

Kisah Sukses Pengusaha Mainan Barongan Mini Asal Blitar

Jika ingin usaha Anda langgeng dan sukses, cobalah menekuni usaha kerajinan mainan anak-anak. Ada banyak pilihan, mulai dari membuat truk miniatur, atau barongan, atau lebih dikenal dengan caplokan.

Kenapa harus anak-anak yang jadi pangsa pasarnya? Karena kalau kita itu bisa merebut hati anak-anak, maka dengan sendirinya orangtuanya akan kena.

Seperti yang dilakukan Agus Widodo, pria berusia 35 tahun asal Lingkungan Pandean Tumpuk, Kelurahan Tangkil, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar ini. 

Sebab, dari buruh kerja kini ia sudah jadi pengusaha. Yakni, sebagai pengrajin barongan mini. Kerja keras itu akhirnya tergantikan. Sebab, tak hanya mampu meningkatkan taraf hidup keluarganya saja, namun juga sudah bisa menghidupi orang lain.

Betapa tidak, ia kini sudah punya 15 karyawan. Ditambah, ia juga sudah punya dua mobil, satu di antaranya mobil pribadi, dan mobil pick up untuk armada di tempat home industry-nya.

"Yang membuat saya bahagia itu, saya bisa menyenangkan orang lain juga. Sebab, kerajinan ini hasilnya tak kami nikmati sendiri namun juga ada karyawan," ujar Agus kepada Surya.

Saat ditemui di rumahnya, Agus terlihat sangat sibuk. Meski sebagai owner, ia tak mau hanya diam atau cukup memerintah anak buahnya, namun masih sering mengerjakan sendiri, terutama pekerjaan yang rumit.

Siang itu, ia lagi melakukan pewarnaan atau painting. Katanya, itu salah satu pekerjaan yang sedikit membutuhkan keahlian dan kesabaran karena membuat motif pewarnaan.

"Bukan saya nggak percaya dengan karyawan, namun saya memang lagi santai. Dan, khusus untuk membuat motif pewarnaan, itu sering kami tangani sendiri," ujarnya.

Kapan mulai usaha membuat kerajinan yang lagi digandrungi anak-anak itu, Agus mengaku sudah tujuh tahun lalu. Itu bermula dari dirinya bekerja ikut orang lain. Yakni, pekerjaannya mengirim janur, dari Blitar ke Bali. Itu dilakukan seminggu sekali karena janur itu, salah satunya buat keperluan upacara.

"Karena sering ke Bali itu, akhirnya tanpa sadar saya menemukan peluang usaha. Yakni, saya melihat banyak caplokan dijual di Bali dan laku, saya berpkiran, mengapa saya nggak mencoba untuk membuatnya. Sebab, saya nggak mungkin bekerja ikut orang terus," paparnya.

Begitu tekadnya sudah bulat, akhirnya dirinya berhenti dari pekerjaannya, dan kemudian memulai membuat caplokan di rumahnya, Awalnya, memang penuh tantangan dan kesabaran. Sebab, dirinya tak langsung bisa melainkan berkali-kali mengalami kesalahan. Terutama saat membentuk kayu, agar menyerupai kepala barongan.

"Ya, maklum, itu memang baru pertama kali membikin barongan mini. "Itu saya kerjakan sendiri di rumah. Namun, karena baru memulai, ya nggak lancar. Bahkan, sehari tak menyelesaikan satu buah. Karena sering keliru sehingga banyak membuang kayu bahan mentahnya," paparnya.

Namun, dirinya tak patah semangat. Meski berkali-kali salah, ia terus mencobanya. Rupanya, keberuntungannya tak harus ditunggu lama. Sebab, di saat masih belajar untuk membuat barongan mini, tanpa diduganya tiba-tiba ada datang dan memesan untuk dibuatkan caplokan.

Bahkan, tak tanggung-tanggung, orang itu memesan sebanyak 50 buah, sehiingga membuatnya tertantang dan menerima pesanan itu.

Kata si pemesan itu, caplokan itu akan dikirim ke Bali. Akhirnya, dirinya mencari bahan-bahan yang dibutuhkan, di antaranya kayu Sengon atau kayu Waru. Kebetulan, kayu jenis itu mudah didapat dan harganya sangat terjangkau.

"Kenapa kok pakai kayu Waru atau Sengon, karena jenis kayunya ringan dan kuat atau tak nudah patah meski jatuh atau dibentur-benturkan. Sebab, kalau bahan kayunya berat, itu pasti tak nyaman bagi anak-anak yang memakainya." paparnya.

Karena belum mahir namun mendadak dapat pesanan sebanyak itu, Agus tak hanya tertantang. Namun, hampir tak kenal lelah. Siang malam, ia terus mengerjakannya, hingga mendekati sempurna. Berkat kerja kerasnya itu, ia akhirnya berhasil menuntaskan pesanannya. Dalam waktu sebulan lebih, ia berhasil menyelesaikan pembuatan 50 buah barongan mini dan langsung.

"Saat itu, hanya saya jual Rp 70.000 per buah (dan sekarang sudah naik jadi Rp 150.000 per buah," ujarnya).  Dari pesanan pertama kali itu, tambah dia, bukan hanya keuntungan yang didapat. Namun, Agus merasa mendapatkan pengalaman. Sebab, begitu baru bisa, ia mampu mengerjakan sendiri caplokan sebanyak 50 buah.

"Akhirnya, dengan berjalannya waktu, saya terus memproduksinya, dan menemukan pasar baru. Tanpa memasarkan sendiri, produk saya bisa dikenal ke daerah lain. Tak hanya ke Bali, juga ke Malang, bahkan kini ke Kalimantan dan Lampung. Mungkin, karena getok tular, karena saya nggak pernah memasarkan langsung," ujarnya.

Kini, home industry Agus sudah dikenal ke berbagai daerah, terutama daerah yang ada wisatanya. Seiring dengan berjalannya waktu, permintaan itu terus naik. Bahkan, ia menargetkan, dengan karyawan 15 orang, ia harus mampu menghasilkan barongan mini sebanyak 130 buah per hari. Itu jika dikurs-kan bisa sekitar Rp 16.900.000.

Itu berarti keuntungannya per hari diperkirakan sekitar Rp 6.900.000. Itu sudah dipotong buat biaya produksi dan ongkos karyawan, yang digaji secara borongaan. Katanya, biaya produksinya murah. Sebab, bahan bakunya, seperti kayu Sengon atau Waru, banyak tersedia di tempatnya dan harganya terjangkau.

"Kami hanya mampu melayani pesanan. Bahkan, kadang belum waktunya pengiriman, pelanggan-pelanggan itu sudah menelponnya, dan minta dipercepat," paparnya.

Memang, Agus mengaku produk caplokan buatanya sangat layak bersaing dengan pasar. Karena itu, anak-anak mencukainya. Mengapa demikian, itu karena ia mengutamakan atau menjaga kualitasnya. Misalnya, pengecatan atau pembuatan motif, Agus tak mau dikerjakan asal-asalnya. Namun, kualitasnya harus dijaga. Misalnya, catnya harus mengkilat dan harus kuat atau tak mudah luntur.

"Tak heran, anak-anak menyukainya. karena catnya seperti menyala kalau kena sorot sinar sehingga menarik kalau dilihat. Karena itu, anak-anak suka dengan caplokan buatan kami," ujarnya.

Karena dirinya sudah puinya nama, maka Agus selalu menekankan pada karyawannya, agar bekerja semaksimal mungkin, untuk menjaga kualitas. Meski hanya untung sekitar Rp 40.000 per caplokan, dirinya mengaku sudah cukup puas.

Sebab, bukan semata-mata keuntungan yang diutamakan, namun kepuasan pelanggan yang nomor satu. {12N}

Artikel Terkait