Kerjasama Kementan Dan PW LPPNU Untuk Ekspor Bunga Krisan Ke Jepang

Kerjasama Kementan Dan PW LPPNU Untuk Ekspor Bunga Krisan Ke Jepang

Surabaya -- Kementerian Pertanian (Kementan) dan Pengurus Wilayah Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (PW LPPNU) Jawa Timur (Jatim) sedang menjajaki ekspor bunga krisan ke Jepang.

Ketua PW LPPNU Jatim, Ghufron Ahmad Yani di Surabaya, Jawa Timur (Jatim), menyampaikan, pihaknya segera berangkat ke Jepang untuk mengirim sampel bunga Krisan sebagai bahan yang akan diekspor ke negeri Sakura.

"Tim LPPNU Jatim dengan difasilitasi Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian dan Badan Karantina Kementerian Pertanian akan berangkat ke Jepang dengan membawa sampel Bunga Krisan dari Green House binaan," kata Ghufron.

Pihak dari Jepang untuk sementara memesan 100.000 stek bunga krisan per pekannya. "Semoga semuanya lancar dan deal, jika itu terjadi maka itu angka yang besar dan tidak mungkin bisa terpenuhi dengan beberapa green house saja," ungkapnya.

Pria yang akrab disapa Yani ini menjelaskan, ekspor bunga krisan merupakan bentuk nyata eksistensi LPPNU yang tidak sebatas mengadvokasi petani, namun sekaligus mencarikan solusi bagi produk yang dihasilkan petani agar memberikan nilai tambah atau keuntungan yang lebih besar sehingga petani semakin sejahtera dan komoditasnya berdaya saing hingga di pasar dunia.

Oleh karena itu, kata Yani, sambil menunggu proses di Jepang yang juga dibantu Kedutaan Indonesia di Jepang, pihaknya sedang mendata kawasan-kawasan yang bisa dikembangkan budidaya bunga krisan di Jatim. Selain Batu dan Pasuruan yang sudah menjadi penghasil, Jember dan Banyuwangi, serta Jawa Timur sebelah barat akan dikembangkan untuk budidaya krisan.

"Tim ahli dan peneliti pengembangkan Bunga Krisan, sudah disediakan oleh Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian," katanya.

Sebetulnya, lanjut Yani, untuk pasar lokal, banyak petani yang merasa kewalahan memenuhi permintaan apalagi pada musim hajatan pernikahan. "Namun apabila dibuka peluang ekspor juga, maka semangat petani akan bertambah," ucapnya.

Yani menyebutkan, harga bungan Krisan biasanya per ikat dengan isi 10 batang harganya Rp13.000 namun pada saat-saat banyak hajatan bisa meningkat menjadi Rp15.000 hingga Rp20.000 per ikat. Bunga Krisan yang diminta Jepang hanya 2 varietas, yakni vaforit warna kuning dengan nama varietas Puspita Nusantara dan warna putih dinamakan Kinanti.

"Budidaya bunga krisan ini mempunyai nilai ekonomis tinggi, sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan petani. Memang dibutuhkan kemapuan tertentu dan hanya bisa ditanam pada katinggian tertentu. Oleh karena itu, LPPNU Jatim akan memberikan pendampingan budidayanya," kata dia.

Terpisah, Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Suwandi, mengatakan, Kementan terus memacu peningkatan produksi komoditas pertanian bernilai ekonomi tinggi. Salah satunya tanaman hias yang memiliki potensi pasar ekspor yang terbuka lebar. Indonesia sangat kaya akan komoditas tanaman hias. Terdapat 173 jenis tanaman hias dengan ribuan jenis varietas yang tersebar di berbagai daerah.

"Sesuai arahan Bapak Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, kita targetkan tanaman hias yang petani produksi berkualitas ekspor agar pendapatan petani dan negara meningkat. Ini pasti bisa karena tanaman hias kita memiliki daya saing yang tinggi di pasar dunia. Keunggulan lainnya, tanaman hias kita bisa memberikan kasih sayang bagi para pecinta bunga," kata Suwandi dalam keterangan tertulis.

Perlu diketahui, pada bulan Maret 2019, bertempat di Cianjur, Jawa Barat, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman melepas ekspor bunga krisan ke Jepang sebanyak 14 juta stek. Sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS), total ekspor komoditas hortikultura tahun 2018 sebesar 435.328 ton senilai Rp6,27 triliun.

Khusus ekspor bunga Krisan pada tahun 2018 sebesar 59,1 ton senilai Rp11,7 miliar dan tanaman hias 2018 sebesar 4.675 ton. Selain Jepang, tujuan ekspor krisan selama ini ke Kuwait, Malaysia, dan Singapura. {Gatra}

Artikel Terkait