KEIN Mengajak Pondok Pesantren Sebagai Pelopor Ekonomi Kerakyatan

KEIN Mengajak Pondok Pesantren Sebagai Pelopor Ekonomi Kerakyatan

Tasikmalaya - Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) mengajak produk pesantren untuk menjadi pelopor gerakan ekonomi kerakyatan di berbagai daerah. Ajakan ini berdasarkan pertimbangan bahwa pesantren sudah mengajarkan ilmu mengembangkan harta benda (muamalah) dan jumlah santrinya telah mencapai jutaan orang yang tersebar di berbagai pesantren seluruh Indonesia.

"Potensi yang dimiliki ini dapat menjadi bagian dari mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia bila dioptimalkan dengan baik," kata Soetrisno Bachir, ketua KEIN, pada rangkaian kegiatan Dialog Ekonomi Ummat di Tasikmalaya beberapa hari yang lalu.

Pesantren, tambah Soetrisno, telah mengajarkan fiqih muamalah yang berkaitan dengan diperbolehkannya manusia mengembangkan sumber daya alam dan aset hasil olahannya untuk aktivitas perekonomian dengan tujuan memberikan kemaslahatan bagi manusia dan makhluk hidup lain. "Kajiannya sudah diajarkan di kelas-kelas dan sekarang saatnya mengaplikasikan kajian muamalah itu dalam perekonomian keseharian, yang dapat disesuaikan dengan budaya daerah masing-masing santri," tambahnya.

Di Indonesia, kegiatan muamalah telah diterapkan di lembaga keuangan syariah serta produk dan barang jasa syariah. Bahkan fatwa mengenai muamalah telah dituangkan dalam hukum positif, misalnya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. "Ini menjadi bukti bahwa semangat ekonomi syariah sejalan dengan ekonomi kerakyatan, yaitu menciptakan kesejahteraan dan keadilan dalam berekonomi," ucap ketu KEIN ini.

Pemerintah telah membentuk Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) pada tahun 2016 silam. Salah satu agenda KNKS adalah menumbuhkan kewirausahaan. Ini nmenjadi agenda strategis karena ekonomi kerakyatan dan ekonomi syariah hanya bisa bergerak apabila sektor riilnya bergerak pula. Jalan untuk menggerakannya adalah dengan menumbuhkan wirausahawan.

Untuk menumbuhkan semangat wirausahawan di kalangan pengasuh dan santri, Soetrisno menyarankan perlunya penguatan literasi muamalah, khususnya keangan syariah dan kewirausahaan. Literasi bermuaara pada inklusi ekonomi syariah dan tumbuhnya semangat kewirausahaan di kalangan santri.

Seperti yang dirangkum dari okenews, ekonomi Indonesia akan semakin kokoh bila sebagian lulusan pesantren menjadi wirausahawan. Sebab tercatat jumlah santri mencapai 4 juta orang di 28 ribu pesantren di seluruh Indonesia. {RN}

Artikel Terkait